Apakah anda tahu angka kematian pasien > 50% pada 2 tahun pertama sejak dimulainya terapi cuci darah sangat tinggi
Reference : Campos LB, Tofoli-Kadir MC, Gubert VT. Chronic kidney disease: clinical and epidemiological scenario of patients in hemodialysis. Glob J Health Sci. 2021;13(7):61–70.
Tentunya anda ingin tahu apa saja yang telah dijalani pasien-pasien penderita gagal ginjal yang berhasil mendapatkan perbaikan fungsi ginjal seperti di atas. Kami perlu terlebih dahulu memberikan sedikit edukasi tentang pentingnya peran ginjal dan apa saja yang menjadi faktor risiko kerusakan pada ginjal.
Penanganan kasus-kasus pasien dengan penurunan fungsi ginjal membutuhkan tindakan kolektif secara komprehensif yaitu salah satunya perlu dilakukan evaluasi terhadap penyakit- penyakit degeneratif yang mendahului terjadinya penurunan fungsi ginjal
Ginjal mendapat aliran darah dari hasil pompa jantung yang masih sehat dan cukup kuat. Pasien dengan kelemahan otot jantung baik pada penderita jantung koroner ataupun penyakit kelemahan jantung (CHF) atau bahkan kebocoran katup jantung juga bisa mengalami penurunan kualitas pompa jantung yang secara otomatis akan menurunkan aliran darah ke ginjal dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal bahkan menyebabkan kegagalan fungsi secara total pada ginjal.
Pasien pengidap tekanan darah tinggi akan menyebabkan menyempitnya pembuluh darah yang bertugas mengalirkan darah ke ginjal. Penurunan fungsi ginjal akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol inilah yang menjadi penyebab tersering dari terjadinya kerusakan ginjal. Hal yang menarik adalah Anda harus melakukan identifikasi kapan urutan periode waktu terjadinya penurunan fungsi ginjal diketahui, apakah peningkatan tekanan darah terjadi sebelum atau sesudah diketahuinya penurunan fungsi ginjal. Karena tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal, tetapi kerusakan ginjal juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.
Pasien dengan penyakit Kencing Manis yang memiliki kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol memiliki resiko besar untuk mengalami kerusakan ginjal akibat terbentuknya plak glukosilasi di pembuluh darah kapiler ginjal. Penurunan fungsi ginjal yang datang akibat penyakit Kencing Manis (Diabetes Mellitus) adalah pasien yang sangat sulit mengalami remisi. Karena obat obat penurun kadar gula yang biasa diberikan pada penderita penyakit Kencing Manis (Diabetes) kebanyakan bersifat toksik untuk ginjal dan justru ketika diberikan akan merusak ginjal lebih luas lagi, bayangkan bagaikan makan buah simalakama. Diberi obat gula, ginjal makin rusak tapi ketika tidak diberikan ginjal juga rusak jika gula terus tinggi
Banyak pasien yang melakukan dokter shopping untuk penyakit yang dideritanya. Seringkali pasien pasien yang datang dengan penurunan fungsi ginjal didapati telah lebih dari 5 tahun konsumsi obat obat seperti :
Reference ;
Kalra S, Jena G, Tikoo K, Mukhopadhyay AK. Preferential inhibition of xanthine oxidase by 2-amino-6-hydroxy-8-mercaptopurine and 2-amino-6-purine thiol. BMC Biochem. 2007;8:8. doi:10.1186/1471-2091-8-8.
Vega J, Goecke H, Mendez GP, Guarda FJ. Nephrotic syndrome and acute tubular necrosis due to meloxicam use. Ren Fail. 2012;34(10):1344-1347. doi:10.3109/0886022X.2012.718953.
Penggunaan obat antidiabetes oral secara umum memiliki keterkaitan dengan perubahan fungsi ginjal seiring waktu. Hal ini mengindikasikan bahwa terapi antidiabetes, selain berperan dalam pengendalian glikemik, juga memiliki implikasi terhadap dinamika fungsi ginjal, terutama dalam jangka panjang. Sulfonilurea memang dikaitkan dengan penurunan yang lebih cepat, namun bukan berarti terapi lain sepenuhnya bebas dari efek terhadap ginjal.
Reference ;
Hung AM, Roumie CL, Greevy RA, Liu X, Grijalva CG, Murff HJ, et al. Comparative effectiveness of incident oral antidiabetic drugs on kidney function. Kidney Int. 2012;81(7):698–706.
Adanya kram di otot, kadang gejala bisa berupa cegukan yang sering
Rasa gatal pada kulit
Kencing berwarna keruh akibat keluarnya protein melalui urin
Kencing berkurang yakni kurang dari 1200ml/ per 24 jam bahkan bisa kurang dari 600ml/ per 24 jam. Semakin ginjal rusak, maka semakin sedikit jumlah urin yang terbentuk
Muncul rasa mual yang terus menerus tanpa alasan yang jelas, bahkan bisa terjadi muntah.
Tapi celakanya ketika anda merasakan gejala gejala diatas biasanya fungsi ginjal sudah dibawah 15%. Bahkan tak jarang beberapa pasien mengetahui fungsi ginjalnya rusak saat fungsi ginjal hanya tersisa 2% saja.
Pemeriksaan Darah yang Wajib Anda CekAda beberapa item pemeriksaan darah yang wajib anda periksakan terkait penilaian fungsi ginjal anda, antara lain :
Pemeriksaan UrinSelain pemeriksaan darah, perlu adanya evaluasi kadar komponen yang ada di urin. Urin menggambarkan hasil nyata kemampuan ginjal dalam menjalankan fungsinya. Apa saja yang perlu anda periksa?
Apabila hasil pemeriksaan Anda menunjukkan angka tidak normal dan dibiarkan tanpa penanganan, tubuh akan mulai menunjukkan gejala-gejala berikut.

Kelelahan

Urin berbusa

Penurunan urin

Edema kaki

Gatal

Keram kaki

Sesak napas

Mual & muntah

Kejang

Koma
Deteksi dini adalah kunci untuk menjaga fungsi ginjal tetap optimal dan mencegah risiko komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Nilai ureum > 200 mg/dL, kreatinin > 12 mg/dL, dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) < 15 mL/menit, maka tindakan cuci darah (dialisis) sering dipertimbangkan untuk menurunkan kadar racun dalam darah. Namun cuci darah tidak menyembuhkan ginjal, melainkan hanya membuang racun metabolik sementara.
Jika terus bergantung pada dialisis, ginjal yang tersisa bisa mengalami atrofi bahkan pengecilan pada bagian otot tubuh lainnya seperti penelitian yang dilakukan Myrian Cipres dkk. pada pasien cuci darah juga menunjukkan bahwa atrofi otot sangat sering ditemukan pada pasien hemodialisis.
Reference : Cipres M, Bachey MB, Butti F, Cardone F, Armendariz ME. Prevalence of muscular atrophy in hemodialysis patients with secondary hyperparathyroidism. 2023
Cuci darah dapat menyebabkan resiko kematian yang tinggi > 50% pada 2 tahun pertama sejak dimulainya terapi cuci darah dibuktikan oleh penelitian Liliane Bernardes Campos dan tim selama kurang lebih 3 tahun menemukan bahwa dari 494 pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis, sebanyak 111 pasien meninggal selama periode penelitian. Lebih dari separuh kematian terjadi dalam dua tahun pertama terapi, dan sekitar 30,6% terjadi pada tahun pertama hemodialisis atau cuci darah .
Reference : Campos LB, Toffoli-Kadri MC, Gubert VT. Chronic kidney disease: clinical and epidemiological scenario of patients in hemodialysis. Glob J Health Sci. 2021;13(7):61-70. doi:10.5539/gjhs.v13n7p61.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maria Jose Soler Romeo dkk. dari Department of Nephrology, Hospital del Mar, Barcelona, yang dipublikasikan dalam jurnal Nefrologia dengan judul "Mortality in patients who remain on hemodialysis", dijelaskan bahwa angka kematian pada pasien hemodialisis sangat tinggi, terutama pada tahun pertama terapi. Bahkan, tingkat ketahanan hidup 5 tahun sering kali di bawah 50%.
Reference : De Arriba G, Gutiérrez Avila G, Torres Guinea M, Moreno Alia I, Herruzo JA, Rincón Ruiz B, et al. La mortalidad de los pacientes en hemodiálisis está asociada con su situación clínica al comienzo del tratamiento. Nefrologia. 2021;41(4):461-466. doi:10.1016/j.nefro.2020.11.006.
Penelitian ini menegaskan bahwa mortalitas pasien yang tetap pada terapi hemodialisis sangat tinggi, dengan lebih dari separuh pasien meninggal dalam 5 tahun dan hampir 3/4 pasien meninggal dalam 7 tahun.
Melalui pendekatan pengobatan difokuskan pada :
Tujuannya adalah untuk memperlambat progresivitas kerusakan ginjal dan meminimalkan kebutuhan dialisis.
Melalui Program DetoxRen, kami berupaya mengatasi penurunan fungsi ginjal Anda dan kami memiliki bukti klinis keberhasilan nyata. Konsultasikan kondisi ginjal Anda sekarang dan temukan pendekatan yang tepat untuk menjaga fungsi ginjal yang tersisa, meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi risiko komplikasi.
Berikut adalah cara kerja berbagai komponen bahan alam dalam Program DetoxRen, yang dirancang untuk membantu memulihkan fungsi ginjal secara bertahap dan menyeluruh.
Komponen pertama berfungsi membantu proses filtrasi ginjal serta meningkatkan detoksifikasi racun metabolik dari dalam tubuh.
Komponen kedua berperan dalam memperbaiki status nutrisi, merangsang pembentukan eritrosit (sel darah merah), serta mendukung regenerasi sel ginjalyang mengalami kerusakan.
Komponen ketiga berperan dalam yang meningkatkan fungsi diuretik alami ginjal, membantu pembuangan cairan berlebih, sekaligus memperkuat prosesdetoksifikasi.
Selain memperbaiki fungsi ginjal, penyebab utama penurunan fungsi ginjal juga harus ditangani secara komprehensif. Bila terapi hanya difokuskan pada perbaikan ginjal tanpa mengatasi sumber penyakit—seperti diabetes, hipertensi, atau infeksi kronis—maka kerusakan sel glomerulus dapat terus berlanjut dan memperburuk kondisi pasien.
Perubahan ini menandakan adanya pemulihan fungsi ginjal dan berkurangnya proses peradangan, dengan kadar ureum dan kreatinin yang semula jauh di atas batas normal kini kembali mendekati rentang fisiologis serta beberapa parameter pemeriksaan urinalisis yang semula positif kini menjadi negatif. Hasil tersebut menjadi bukti keberhasilan terapi holistik dan berbasis evidensi dari Program DetoxRen, yang berfokus pada perbaikan filtrasi ginjal, peningkatan detoksifikasi, serta regenerasi sel-sel ginjal secara alami tanpa tindakan cuci darah. Temuan ini menunjukkan bahwa Program DetoxRen mampu memberikan hasil klinis yang positif dalam mendukung perbaikan fungsi ginjal dan metabolik sekaligus menepis anggapan bahwa terapi berbasis herbal dapat merusak organ tubuh.
Tidak. Program DetoxRen tidak dimaksudkan sebagai pengganti hemodialisis atau tindakan medis dokter. Program ini berfungsi sebagai pendamping untuk membantu mendukung fungsi ginjal sesuai evaluasi medis.
Program dijalankan dengan pemantauan tenaga medis dan disesuaikan dengan kondisi pasien. Jika Anda sedang mengonsumsi obat rutin, konsultasi awal tetap penting agar penanganan lebih terarah.
Durasi terapi berbeda pada setiap pasien, tergantung kondisi ginjal, hasil laboratorium, dan respons tubuh terhadap program yang dijalankan.
Dalam banyak kasus, terapi dapat dijalankan bersama pengobatan dokter dengan pengawasan medis. Obat rutin tidak boleh dihentikan tanpa arahan dokter.