Udah tau belum kalo dalam prosesnya, pembuluh darah arteri tebal akan diganti dengan pembuluh darah vena tipis yang punya resiko pecah?
Profesor Harvard udah Buktikan lewat 5000 pasien bahwa pasang ring jantung dan operasi bypass tidak menurunkan angka kematian.
Karena saat ini alat yang digunakan oleh sebagian besar pihak medis konvensional untuk menilai aliran pembuluh darah jantung adalah Angiografi yang hanya dapat mengidentifikasi aliran dipembuluh darah besar saja. Pemeriksaan tersebut tidak dapat mendeteksi pembuluh darah kecil sehingga mereka berpendapat otot jantung hanya diberikan nutrisi oleh 4 pembuluh darah utama yaitu Left Main Artery (LMA), Left Circumflex Artery (LCX), Left Anterior Descending Artery (LAD), dan Right Coronary Artery (RCA).
Sehingga ketika terjadi sumbatan aliran di pembuluh pembuluh darah tersebut, maka cara mengatasinya cukup dengan mengembangkan ring di area pembuluh darah tersebut dan masalah dianggap selesai.
Medis konvensional Hanya Melihat jantung berdasarkan 4 pembuluh darah besar jantung saja padahal jantung justru tersusun atas puluhan ribu cabang pembuluh darah mikro yang memberikan nutrisi ke otot jantung. Jika terjadi sumbatan di pembuluh darah besar maka secara logika di pembuluh darah kecil akan timbul sumbatan juga, justru resiko terjadinya lebih besar karena plak tersebut akan lebih mudah menyangkut di pembuluh darah kecil.
Ini adalah pencitraan pembuluh darah jantung asli dan real yang diambil langsung pada seorang pria berusia 24 tahun di salah satu rumah sakit amerika. Dari gambar diatas jelas menunjukan bahwa jantung tersusun atas puluhan ribu pembuluh darah mikro.
Terbukanya aliran darah di pembuluh darah besar baik akibat dipasang ring ataupun operasi bypass menjadi tidak bermakna secara signifikan dalam memberikan kekuatan pompa jantung yang dibutuhkan karena puluhan ribu pembuluh darah kecil (mikro) masih mengalami penyumbatan dan perlu diingat bahwa sel otot jantung hanya bisa mendapatkan nutrisi dari pembuluh darah mikro.
Sejalan dengan Penelitian studi kohort oleh Nishi et al yang melibatkan 572 pasien dengan penyakit jantung koroner yang menjalani pemasangan ring jantung di 8 pusat kardiologi di 4 negara, Menunjukkan bahwa kesehatan pembuluh darah kecil di jantung sangat berpengaruh terhadap kondisi pasien setelah tindakan pemasangan ring jantung (PCI). Meskipun pembuluh darah besar sudah berhasil dibuka, aliran darah di pembuluh darah kecil bisa saja masih terganggu. Pasien yang pembuluh darah kecilnya tidak bekerja optimal terbukti memiliki risiko keluhan jantung dan masalah lanjutan yang lebih tinggi. Karena itu, menjaga kelancaran sirkulasi darah hingga ke pembuluh darah kecil penting sebagai bagian dari perawatan lanjutan dan pendamping, agar fungsi jantung tetap terjaga dalam jangka panjang.
Visualisasi Setelah Pasang Ring Aliran yang diperbaiki hanya berfokus pada pembuluh darah besar, sedangkan pada pembuluh darah kecil hasilnya terdapat sumbatan. Padahal pembuluh darah kecillah yang secara langsung memberikan secara langsung nutrisi ke otot jantung.
Visualisasi Setelah Operasi Bypass
(Reference : Prakash RO, Chakrala TS, Feuer DS, Valdes CA, Pepine CJ, Keeley EC. Critical role of the coronary microvasculature in heart disease: From pathologic driving force to "innocent" bystander. Am Heart J Plus. 2023;30:100320. doi:10.1016/j.ahjo.2023.100320)
Gambar diatas merupakan Normal EKG
EKG menangkap gelombang listrik halus yang diteruskan oleh sel-sel jantung melalui elektroda yang ditempelkan didada pasien. Pola gelombang listrik dari tangkapan inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi sel jantung. Apakah sel otot jantung mampu meneruskan listrik dengan kuat (normal), lemah (iskemik) atau malah tidak mampu meneruskan listrik sama sekali (infraction). Ada 2 jenis pemeriksaan EKG yaitu Common ECG (EKG umum) diambil saat beristirahat dan Stress ECG (EKG Beban) diambil saat diberikan beban berjalan atau berlari.
Menggunakan EKG umum untuk screening awal pemeriksaan jantung tanpa melakukan pemeriksaan echocardiography. ketika abnormalitas terjadi pada pemeriksaan EKG maka medis konvensional akan melanjutkan pemeriksaan kepada pemeriksaan Stress ECG
Menggunakan EKG umum dan Echocardiography untuk screening awal pemeriksaan jantung adalah bagian yang tak terpisahkan dan memang tidak boleh berdiri sendiri dalam pemeriksaan jantung, agar dapat memisahkan apakah gangguan jantung terjadi akibat kerusakan katup jantung atau akibat penyempitan pembuluh darah dan kelemahan otot. Karena Kerusakan katup dapat menyebabkan kebocoran aliran jantung yang memiliki gejala hampir sama bahkan identik dengan gangguan penyempitan pembuluh darah jantung.
Pemeriksaan Echocardiography merupakan pemeriksaan jantung yang menggunakan gelombang ultrasound (USG) untuk melihat struktur dan fungsi jantung secara real-time. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan jantung jauh lebih aman dan akurat dibandingkan pemeriksaan lain, selain tidak memakai zat kontras, pemeriksaan echocardiography dapat melihat secara keseluruhan kontraksi atau pergerakan otot jantung. Pada pemeriksaan ini jantung dibagi menjadi 3 bagian yaitu : Basal (Atas), Mid (Tengah), Apical (bawah) disetiap bagian tersebut dapat dibagi menjadi 6 segmen atau 6 bagian lagi dan pergerakan setiap bagian dapat diamati untuk menilai kontraksi otot jantung.
Gambar berikut adalah hasil pemeriksaan gerakan otot jantung pada ke 6 segmen bagian Basal jantung . Tanda panah berwarna merah pada segmen 1 , 6 dan 5 menunjukkan adanya kelemahan (Hipokinetik) pada gerakan otot jantung . Hipokinetik merupakan kondisi dimana bagian otot jantung tidak mampu melakukan kontraksi dengan baik, hal ini disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh darah jantung. Coba bandingkan dengan gerakan otot jantung normal pada segmen 2,3, dan 4 ( Panah biru )
Jika didapati Abnormalitas pada pemeriksaan EKG dan dalam pemeriksaan Echocardiography tidak terdapat kerusakan katup. Maka pemeriksaan tidak perlu dilanjutkan pada pemeriksaan stress ECG karena secara logika ketika saat beristirahat saja terlihat abnormal pada kelistrikan jantung atau pemeriksaan EKG , apalagi jika dilakukan pemeriksaan treadmill atau exercise stress test yaitu pasien harus berjalan/ berlari di treadmill, tentu saja hasilnya akan memperburuk kondisi jantung. Medis konvensional sering melakukan kekeliruan ini tanpa mempertimbangkan efek samping kemudian hari.
Jika didapati Abnormalitas pada pemeriksaan EKG dan dalam pemeriksaan Echocardiography terdapat kerusakan katup. Maka pemeriksaan tidak dilanjutkan pada pemeriksaan stress ECG. Mengapa? Karena hal ini sangat berbahaya dan dapat berpotensi merangsang keparahan lebih lanjut pada jantung pasien dan beresiko mendapat serangan jantung.
Jika Screening EKG dan Echocardiography dinyatakan baik maka barulah pasien dilanjutkan pada pemeriksaan Stress ECG
Stress ECG digunakan sebagai GOLD standart dalam pemeriksaan kondisi jantung. Ketika pasien diberikan beban uji berjalan dan berlari hingga mencapai kapasitas jantung 85-90% sambil dadanya dipasangi elektroda ECG. Jika didapati adanya "Depresi segmen ST", maka menunjukkan bahwa kondisi otot jantung saat berjalan atau berlari mengalami kekurangan nutrisi.
Ketika terjadi abnormalitas berupa "Depresi segment ST" pada hasil Stress ECG pasien maka akan dianggap hal ini sebagai penyumbatan jantung. dan perlu tindakan lanjutan berupa pemeriksaan kateterisasi (Angography). Pihak Medis konvensional akan mendiagnosa pasien tersebut dengan Penyakit Jantung Koroner. Padahal abnormalitas berupa "depresi segment ST" dapat terjadi jika katup jantung pasien telah berubah atau rusak akibat proses penuaan, dimana kondisi ini akan menyebabkan aliran darah yang masuk ke otot jantung menjadi berkurang dan pasien akan memiliki keluhan yang sama persis dengan pasien yang memiliki kondisi penyumbatan pembuluh darah jantung. Penyakit jantung dengan hasil stress test "Depresi Segment ST" bukan hanya akibat penyumbatan pembuluh darah di jantung tapi juga akibat masalah pintu katup jantung, besar ruangan jantung, otot jantung bahkan bisa akibat dari masalah hormonal dan gangguan sistemik seperti anemia.
Pasien yang menjalani Stress ECG dipastikan tidak memiliki gangguan katup. Sehingga Ketika terjadi abnormalitas berupa "Depresi segment ST" pada hasil Stress ECG pasien maka dapat dipastikan hal ini sebagai penyumbatan jantung dan perlu tindakan lanjutan berupa pemeriksaan Myocardial Perfusion.
Perhatikan pemeriksaan Stress ECG diatas menunjukkan bahwa terdapat abnormalitas berupa depresi pada segment ST pada lead V3, V4, lead II, dan lead III yang menandakan bahwa telah terjadi kekurangan aliran darah serta kadar oksigen (Iskemia) ke daerah otot jantung akibat penyumbatan pada pembuluh darah jantung.
Ketika dokter mendapati abnormalitas pada hasil rekaman stress ECG pasien, maka dokter akan melakukan pemeriksaan Angiography atau yang lebih dikenal dengan pemeriksaan Kateterisasi untuk menilai aliran pembuluh darah besar yang memberikan nutrisi ke otot jantung. Lalu melakukan di pembuluh darah jantung mana yang mengalami hambatan aliran, berapa titiknya dan berapa persentase penyumbatannya.
Pemeriksaan ini Angiography (kateterisasi) menggunakan cairan kontras yang dimasukkan kedalam pembuluh darah dimana cairan ini berpotensi beresiko menyebabkan kerusakan ginjal permanen.
(Reference : Shams E, Mayrovitz HN. Contrast-induced nephropathy: a review of mechanisms and risks. Cureus. 2021;13(5):e14861.)
(Reference : Lee PH, Huang SM, Tsai YC, Wang YT, Chow FY. Biomarkers in contrast-induced nephropathy: advances in early detection, risk assessment, and prevention strategies. Int J Mol Sci. 2025;26(7):2869. doi:10.3390/ijms26072869.)
Tidak hanya itu, pemeriksaan kateterisasi jantung memang dapat menyajikan dalam bentuk visual hanya penyumbatan pada pembuluh darah besar atau utama artery coronary pada jantung, Namun tidak dapat menyajikan secara visual bila terdapat penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil atau mikrosirkulasi pada jantung, sehingga pemeriksaan ini tidak dapat menggambarkan aliran sirkulasi pada jantung secara komprehensif.
Berbeda dengan pandangan medis konvensional yang melanjutkan pemeriksaan Kateterisasi ketika terjadi abnormalitas pada pemeriksaan Stress ECG, Pihak Medis Integrasi Vasoflow by Phytoprime akan melanjutkan pada pemeriksaan Myocardial Perfusion Imaging (MPI). Pemeriksaan MPI adalah pemeriksaan yang mampu menilai aliran darah pada pembuluh darah mikro jantung. Hal ini untuk menilai secara real tentang wilayah jantung yang benar benar kekurangan nutrisi. Karena seringkali penyumbatan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan kateterisasi tidak menyebabkan gangguan signifikan pada otot jantung. Hal ini terjadi akibat adanya kompensasi 10 pembuluh darah kecil menggantikan 1 pembuluh darah besar.
MPI-Normal
MPI-Abnormal
Nyeri Dada Saat Naik Tangga? Informasi Program Vasoflow by Phytoprime klik Tombol Dibawah ini
Konsultasi Dokter Vasoflow by PhytoprimePerbaikan Jantung setelah pemasangan Ring / Bypass tidak di evaluasi dengan uji kemampuan jantung seperti treadmill test dan Myocardial Perfusion imaging.
Padahal ketika berbicara soal penyakit jantung kita berbicara tentang kemampuan kontraksi otot jantung memompakan darah keseluruh tubuh. Tentunya jika dianggap pemasangan ring jantung dan operasi bypass memperbaiki aliran darah makan harusnya tercermin dari perbaikan hasil pemeriksaan Stress ECG, Ejection Fractional dan Myocardial Perfusion. Tapi nyatanya banyak hasil yang menunjukkan bahwa pasien yang telah dipasang ring dan operasi bypass tidak mengalami perbaikan hasil stress ECG, Ejection Fractional, Analisa segmental dan myocardial perfusion. Artinya Pasang Ring dan Operasi Bypass seringkali tidak berhasil mengatasi penyakit jantung koroner ini.
Sejalan dengan hasil penelitian besar pada 5.179 orang pengidap penderita jantung koroner selama 3 tahun 2 bulan di 320 titik random bahkan sampel pasien diambil di 37 negara, menunjukkan bahwa ANGKA KEMATIAN PASIEN TIDAK MENURUN SAMA SEKALI WALAUPUN TELAH DILAKUKAN PEMASANGAN RING DAN OPERASI BYPASS JANTUNG. Justru dengan gaya hidup sehat dan menggunakan terapi obat yang tepat jauh lebih meningkatkan kualitas hidup yang baik dan sehat.
(Reference : Maron DJ, Hochman JS, Reynolds HR, Bangalore S, O'Brien SM, Boden WE, et al. Initial invasive or conservative strategy for stable coronary disease. N Engl J Med. 2020;382(15):1395-1407.)
Evaluasi Keberhasilan Pengobatan menggunakan pemeriksaan echocardiography dengan melakukan analisa segmental, mengukur persentase kekuatan otot jantung (ejection fractional), Jika normal dilanjutkan pada evaluasi pemeriksaan Treadmill test (Stress ECG), Jika normal akan dilanjutkan pada pemeriksaan Myocardial Perfusion. Tentunya melalui semua uji evaluasi yang dilakukan akan benar-benar menggambarkan kapasitas dan kekuatan jantung yang sesungguhnya.
Dalam menangani penyakit jantung koroner, ada 2 tatalaksana umum yang ditawarkan oleh pihak medis konvensional, yaitu:
Pemasangan Ring (Stenting) adalah upaya merenggangkan pembuluh darah dan menahannya dengan sebuah ring untuk memperbesar diameter pembuluh darah tersebut dengan harapan akan terjadinya peningkatan aliran darah kepada pembuluh darah tersebut. Prosedur ini menggunakan alat yang sama dengan alat diagnosa kateterisasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain prosedurnya yang membutuhkan kontras dan menyebabkan resiko penurunan fungsi ginjal akibat cairan kontras yang bersifat toksik tersebut, resiko munculnya reaksi penolakan alami tubuh akibat respon asing karena ring yang dipasangkan juga menjadi hal yang patut menjadi pertimbangan. Untuk itulah pihak medis konvensional akan memberikan obat anti pengentalan darah sebagai upaya mencegah terjadinya penggumpalan darah di lokasi ring tersebut. Seringkali upaya pencegahan itu tetap tidak berhasil mencegah terjadinya Penggumpalan didalam ring yang terpasang sehingga pasien mengalami ISR atau instent restenosis.
Senada dengan penelitian yang diteliti oleh Michael S. Lee dan Gaurav Banka , mengenai In-stent Restonesis setelah tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI), Bahwa ISR umumnya muncul 6-12 bulan setelah Tindakan PCI, dan paling sering disebabkan oleh proses Neointimal Hyperplasia , yaitu Proliferasi otot vaskular yang menyebabkan penyempitan kembali lumen arteri atau ISR dapat terjadi 3-20% setelah pemasangan ring, Terbukti pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Dangas et al pada journal of American College of Cardiology.
Selain itu Menurut Penelitian oleh Roxana Mehran et al. mengenai “Angiographic Patterns of In-Stent Restenosis Classification and Implications For Long term outcome” bahwa bentuk ISR bisa berbeda-beda dan semakin parah penyumbatannya , semakin besar risiko pasien mengalami penyempitan ulang sehingga akan dilakukan tindakan pemasangan stent ulang ditempat yang sama.
Referensi :Lee MS, Banka G. In-stent restenosis. Interv Cardiol Clin. 2016;5(2):211–220. Dangas GD, Claessen BE, Caixeta A, Sanidas EA, Mintz GS, Mehran R. In-stent restenosis in the drug-eluting stent era. J Am Coll Cardiol. 2010;56(23):1897–1907.
Belum lagi perlunya untuk melakukan pertimbangan lain berupa resiko terjadinya Ruptur (robeknya dinding pembuluh darah) akibat pengembangan ring di wilayah penyumbatan dengan dinding pembuluh darah yang rapuh (fragile) dan tidak lagi memiliki elastisitas yang mampu menahan renggangan Ring ketika di kembangkan tentunya berkontribusi besar meningkatkan resiko kematian dalam proses pemasangan ring (stent).
Referensi :Alfonso F, Goicolea J, Hernández R, Fernández-Ortiz A, Segovia J, Bañuelos C, Aragoncillo P, Phillips P, Macaya C. Arterial perforation during optimization of coronary stents using high-pressure balloon inflations. Am J Cardiol. 1996;78(10):1169–1172. Roubelakis A, Rawlins J, Baliulis G, Olsen S, Corbett S, Kaarne M, Curzen N. Coronary artery rupture caused by stent infection: a rare complication. Circulation. 2015;131(14):1302–1303. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.114.014328. Ward MR, Hibi K, Shaw JA, Furukawa E, Resnic FS, Kimura K. Effect of stent implantation on ups_tream coronary artery compliance: a cause of late plaque rupture? Am J Cardiol. 2005;96(5):673–675.
CABG atau Operasi Bypass adalah prosedur untuk menggantikan Pembuluh Arteri yang tersumbat dengan pembuluh vena kaki (Saphena Magna) untuk mengaliri darah dari aorta ke otot jantung. Pembuluh Arteri Koroner memiliki dinding tebal yang dipersiapkan untuk menahan tekanan yang begitu kuat malah digantikan dengan pembuluh vena saphena magna yang memiliki dinding dengan tebal 1/3 nya saja dari arteri. Kondisi ini seiring waktu akan menyebabkan terjadinya resiko robeknya dinding pembuluh vena itu yang berakibat menimbulkan resiko kematian. Tapi perlu diketahui bahwa tindakan ini bagaikan memakan buah simalakama. Disatu sisi sangat dibutuhkan untuk membantu mengalirkan darah bagi otot jantung yang kekurangan oksigen namun disisi lain justru meningkatkan resiko terjadinya aneurisma dan diseksi pada pembuluh darah tersebut setelah beberapa tahun pemasangan.
Dengan resiko yang dapat ditimbulkan akibat pemasangan Ring dan Operasi Bypass yang dipaparkan diatas tentunya perlu adanya pertimbangan kembali dalam memutuskan pilihan tatalaksana bagi penderita jantung koroner. Belum lagi beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Division of Cardiology, Cook County Health, Chicago, Amerika Serikat yang melakukan penelitian berskala besar dan dalam jangka waktu panjang yaitu kurang lebih selama 10 tahun oleh Aviral Viji MD et al yang melibatkan 12.013 orang penderita jantung koroner untuk mengetahui efektivitas strategi invasif seperti operasi bypass atau pasang ring dibandingkan terapi medis konservatif yaitu minum obat dan menjalankan gaya hidup sehat pada pasien jantung koroner, TERBUKTI BAHWA PEMASANGAN RING JANTUNG DAN OPERASI BYPASS JANTUNG TIDAK MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN.
(Reference : Vij A, Kassab K, Chawla H, Kaur A, Kodumuri V, Jolly N, et al. Invasive therapy versus conservative therapy for patients with stable coronary artery disease: An updated meta-analysis. Clin Cardiol. 2020;43(10):1211-1220.)
Dari hasil penelitian skala besar diatas yang dilakukan dalam kurun waktu 3 hingga 10 tahun dan melibatkan lebih dari 12.000 pasien menunjukkan bahwa hasil penelitian ini benar benar valid serta mengubah paradigma kosong yang dipercaya dan diyakini selama ini oleh pihak medis konvensional bahwa pasien dengan penyumbatan arteri jantung harus ditatalaksana dengan pemasangan ring jantung (Stenting) ataupun operasi bypass (CABG) telah terbukti bahwa kedua tindakan invasif tersebut tidak membuat angka kematian pasien menurun dan menariknya didalam salah satu penelitian menunjukkan bahwa resiko serangan jantung malah lebih tinggi dibandingkan pasien jantung yang hanya minum obat.
Program Vasoflow by Phytoprime hadir sebagai solusi yang mengusung perspektif penatalaksanaan melalui Reforming New Vascular (Collateral) yang mampu dirangsang dengan menjalankan Program Vasoflow by Phytoprime berbasis herbal integrasi yang fokus pada angiogenesis yaitu merangsang pengeluaran VEGF dan CXCL12 untuk menumbuhkan pembuluh darah kolateral (pembuluh darah alternatif) agar terjadi peningkatan mikrosirkulasi dan perfusi jantung. Program ini membantu regenerasi sel jantung pasca-infark, serta melindungi jantung melalui efek antioksidan, antiinflamasi, dan modifikasi enzimatik yang dijalankan secara kompleks oleh Program Vasoflow by Phytoprime Hasilnya, fungsi kontraksi jantung dapat pulih secara alami. Hal ini dapat terlihat dari sejumlah bukti klinis dan pre dan pascatatalaksana Program Vasoflow by Phytoprime, dimana terdapat perbaikan yang sangat signifikan pada seluruh penderita jantung yang menjalani Program Vasoflow by Phytoprime.
Diskusikan Hasil Pemeriksaan Jantung Anda klik Tombol Dibawah ini
Konsultasi Dokter Vasoflow by PhytoprimeMengikat radikal bebas pada LDL → mencegah oksidasi & pembentukan foam cell Memfasilitasi makrofag mencerna LDL → apoptosis → ↓ plak aterosklerosis Mengaktivasi konversi plasminogen → plasmin → melarutkan fibrin (trombus)
Mengandung lumbrokinase Mengaktivasi CXCL12 & VEGF Stimulasi proliferasi endotel via jalur MAP kinase ➡️ Terbentuk kolateral (bypass alami) → suplai darah tetap ada meski oklusi
Mendukung perbaikan jaringan miokard yang rusak akibat iskemia ➡️ Proses bertahap, butuh terapi berkelanjutan
Mencegah oksidasi LDL Memperbaiki integritas endotel → ↓ penetrasi lipid Menurunkan MMP-9 → stabilisasi plak Mencegah pembentukan trombus
↓ trigliserida, LDL, kolesterol total, ↑ HDL ➡️ Mendukung kontrol dislipidemia, termasuk pada pasien terapi statin
Berikut keberhasilan pasien pasien jantung koroner yang ditatalkasana dengan perspektif Vasoflow by Phytoprime Medis Integrasi
Sudah Siap Sembuh Secara Klinis? Informasi Program Vasoflow klik Tombol Dibawah ini
Konsultasi Dokter Vasoflow by PhytoprimeNyeri Dada
Mudah Lelah
Sesak Napas Saat Aktivitas
Riwayat Penyakit Jantung Koroner
Tekanan Darah Tinggi
Jika Anda mengalami gejala tersebut,
konsultasi medis lebih awal dapat membantu menentukan langkah
penanganan yang tepat.
Program Vasoflow by Phytoprime tidak dimaksudkan untuk menggantikan tindakan medis tertentu. Program ini merupakan pendekatan terapi komprehensif yang membantu mendukung kesehatan pembuluh darah dan fungsi jantung.
Program dilakukan dengan pemantauan dokter dan menggunakan bahan yang telah melalui proses standarisasi serta memiliki izin edar BPOM.
Durasi terapi dapat berbeda pada setiap pasien tergantung kondisi medis dan respons tubuh terhadap terapi.
Dalam banyak kasus terapi dapat dikombinasikan dengan pengobatan dokter dengan pengawasan medis.
Jika Anda atau keluarga memiliki riwayat penyakit jantung koroner, konsultasi medis yang tepat dapat membantu menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Tim dokter kami siap membantu mengevaluasi kondisi jantung Anda secara lebih menyeluruh.
Konsultasi Dengan Dokter Vasoflow by Phytoprime